Senin, 26 Desember 2011

rara pergi ke pantai

PEOPLE. . . run as fast as she can,LEAVE as fast as she can. .
YE AH, something that interest for us, to be one of a human, with two eyes to seeing the BEAUTIFULLY WORLD... HUH, THANK'S GOD..beach is always give me a "safe feeling"

Bagi sebagian orang, pantai identik dengan PANAS nya, namun tidak dengan pantai yang ada 2jam dari pusat kota Yogyakarta ini..
Tebak..
Menikmati Pantai ... tentu berbeda pada setiap orang, sisi pandang setiap orang beraneka ragam..hummm, itulah kehebatan manusia, multi-akal..Subhanallah..
kali ini Rara bakalan tulis, pandangan Pantai menurut sudut pandang Rara..keelokan pepohonan,keindahan pasir yang lembut menguntai sejauh mata memandang..dengan perpaduan laut nan biru lepas tanpa  batas..yang terbalut menjadi satu..dengan sebutan "Pantai"

Sabtu, 10 Desember 2011

tetesan air mata pelangi . .

 untuk dijadikan motivasi, disini orang itu diibaratkan seperti " pelangi ;) "
enjoy . . .

tetesan air mata pelangi . . .

pagi itu, suasana kampus begitu segar. tatkala angin yang bertiup cukup kencang . . . yang kemudian mengibaskan helaian rambut setiap insan di tempat itu. Di sana, telah banyak antrian mahasiswa baru yang sedang mengikuti acara wajib sebagai sarana pengenalan mahasiswa baru dengan suasana kampus, sebut saja OSPEK.
Tak kenal, tak sayang, tak dekat, tak sayang,

YAH dari sini pelangi-pelangi mulai muncul,

pelangi. . .
muncul serta terlihat oleh jutaan pasang mata manusia, meski nikmat butiran air hujan tak merata terasa olehnya. Pelangi tak hanya pelit memperlihatkan wujudnya yang hanya di tempat terdipilih untuk mendapatkan hujan, tetapi juga di lain tempat, yg tak terbasahi oleh tetesan air hujan. . . itulah pelangi, yang selalu indah, menyejukkan, mengagumkan, memberikan motivasi, dan membahagiakan . .

Nia, ia gadis dengan perawakan sedikit tinggi, kurus, dan mengenakan kacamata berwarna hijau. Ia merupakan mahasiswa yang berasal dari daerah Palembang. Pembawaannya yang luwes membuat ia mudah diterima oleh teman-teman barunya yang telah ia kenal sebelumnya lewat dunia maya. Akibat salah satu kemajuan teknologi ini, telah terjalin pula komunikasi antar sesama mahasiswa baru di universitas tersebut.

termasuk Nia, dan Amri . . . awal pertemuan mereka adalah di lobi lantai 2. Saat itu Nia sedang duduk di pinggir lobi bersama teman satu kelompoknya, lengkap dengan atribut ospek yg menggelikan mengingat cara membuatnya yg cukup merepotkan segala lapisan masyarakat.
Dari arah berlawanan, beberapa kelompok laki - laki berjalan di depan mahasiswa lain yg sedang beristirahat. Tiba-tiba dari sebelah Nia, salah satu teman yg duduk bersebelahan dengannya, memanggil nama, " Amri!" dan seketika itu, Amri tersenyum.
Setelah pertemuan itu, hanya Nia yg sudah bisa mengenali wajah Amri, tidak dengan Amri. Amri tetap belum mengenali wajah Nia, sampai akhirnya hari berikutnya, Amri berhasil mengenali wajah Nia, teman yg ia kenal sebelumnya, teman untuk bertukar informasi, serta impian tentang dunia perkuliahan yg kelak akan mereka jalani.

Sampai pada suatu saat, setelah ospek berakhir dan kegiatan perkuliahan telah dimulai. . .
Saat itu Nia bersama Sia, temannya, mereka pergi keluar ruang kuliah untuk menuju ke kamar kecil. Begitu ia keluar dari pintu ruang kuliah, dari arah belakang, Amri mengejar Nia. . . sambil mengulurkan tangannya. bukan untuk menolong Nia yg sedang terpeleset, melainkan untuk berkenalan dengan Nia secara langsung, saat itu adalah saat pertama kali mereka saling berbicara.

Amri berkata sambil mengulurkan tangannya, " hai ni, aku amri." hey, aku Nia. . dan mereka saling berjabat tangan, dilanjutkan dengan berbicara tentang beberapa hal,
seteleh itu, banyak hari mereka lalui . . . Sampai pada Amri menyatakan cintanya pada Nia, di perpustakaan kampus mereka.

disinilah awal dari banyak hal yang coba dipelajari oleh Nia,
pacarnya adalah sosok yang berbeda. . . ada banyak hal pada diri pacarnya yang sekaligus teman akrab pertamanya itu. Seiring waktu berlalu, Nia merasakan sesuatu, sesuatu yang "tidaklah biasa". Ia menggunakan perasaannya, untuk perlahan mengerti tentang Amri.
Beberapa pertanyaan dari Nia, banyak yang tak terjawab oleh mulut Amri. . . beberapa kalimat lelucon yang keluar dari mulut Nia pun kadang ada yg tidak ditanggapi oleh Amri. "Ada sesuatu yang janggal"Nia berkata dalam hati. . .

Suatu hari lain, ia bercerita tentang kejanggalan ini pada temannya. Nia bisa merasakan, sepertinya hal janggal ini adalah tentang seputar keluarga. Tak lama kemudian, Nia mengetahui sesungguhnya apa yang terjadi, sesuai dengan apa yg ia rasakan sebelumnya.
sosok pribadi nan kuat, berprinsip, pantang menyerah, penghibur, itulah dia, pacar Nia, Amri.. . . .
Saat Nia mengetahui bagaimana Amri, dia hanya menyimpannya dalam hati kecilnya, berusaha memahami Amri yang tak pernah mau bercerita kepada dirinya. Setiap Nia dan Amri saling bertukar pendapat bersama, Amri selalu saja mengatakan, "Nia. . . ada porsi/bagian yang berhak untuk kamu tau, ada juga bagian yang kamu ngga bisa tau". perkataan Amri, membuat Nia tersentuh. Begitu kuatnya pemuda di depan ku ini, begitu besar hatinya menjalani hidup ini. Sosoknya menjadi motivasi bagi Nia, untuk menjadi pribadi yang kuat. Nia secara diam- diam telah mengetahui keadaan keluarga Amri, dari salah seorang teman Amri.

Aku bisa hidup dengan cara sederhana, namun aku tak bisa hidup tanpa kehadiran kedua orang tua yang aku sayangi. Aku sangat menyanyangi kedua mereka, tanpa mereka, entah kemanakah jalan terang yang harus kucari,sendiri. . .
Kedua orangtua Amri telah berpulang kembali kepada Yang Maha Kuasa, Allah SWT..


Kata-kata lain dari pembicaraan Amri dan Nia di taman, yang selalu teringat oleh Nia , sebelum akhirnya hubungan mereka berakhir adalah .  . .
" Aku senang, bisa membuat orang lain tertawa bahagia. walaupun sebenarnya aku sedang sedih,"

"Aku sering pergi bersama teman-temanku, untuk sekedar menghibur diriku sendiri Nia,"
YAH. . . Dia adalah pelangi,
ditengah sedihnya, ia menunjukkan kekonyolannya untuk membuat tertawa dirinya dan orang lain,

kegigihannya untuk belajar, kegigihannya untuk total mengikuti organisasi yang sedang ia geluti, dan hubungannya dengan Sang Maha Pencipta. .


WAHAI PELANGI, TETESAN AIR MATAMU ADALAH KESABARAN, KEHADIRANMU ADALAH KEBAHAGIAAN BAGI ORANG - ORANG, TAK HANYA YANG BERADA dI SEKITARMU, TERSENYUMLAH PELANGI . . . BANYAK YANG MENYAYANGIMU, dan TERUSLAH MENJADI PELANGI 





WAHAI PELANGI, TETESAN AIR MATAMU ADALAH KESABARAN, KEHADIRANMU ADALAH KEBAHAGIAAN BAGI ORANG - ORANG, TAK HANYA YANG BERADA dI SEKITARMU, TERSENYUMLAH PELANGI . . . 
BANYAK YANG MENYAYANGIMU,
dan TERUSLAH MENJADI PELANGI  ;)

Minggu, 04 Desember 2011

10ribu Arti Rasa Syukur

Ada sebuah kisah mengenai seseorang,ia bernama Purnawan. Sore itu, ia bersama istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah mall. Usai membayar, tangan kanan dan kiri mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.


Baru saja mereka keluar dari sebuah mall, istri Purnawan dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Purnawan, "Beri kami sedekah, Bu!" Istri Purnawan kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!" 

Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Purnawan pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, "Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!" Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Purnawan  malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Purnawan berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Purnawan  ingin mengecek saldo rekening dia. Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Purnawan menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening. Purnawan menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. 

Uang itu Kemudian ia lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah. Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan: "Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih Bapak! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga...!

Purnawan tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Purnawan mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Purnawan terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, "Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!" Deggg...!!! Hati Purnawan tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Purnawan membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung nasi rames untuk makan di sana. Purnawan masih terdiam dan terpana di tempat itu. 

Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Purnawan. Mata Purnawan kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. "Ada apa Pak?" Istrinya bertanya. Dengan suara yang agak berat dan terbata Purnawan menjelaskan: "Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!" Awalnya istri Purnawan hampir tidak setuju tatkala Purnawan mengatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis. Namun Purnawan  kemudian melanjutkan kalimatnya: "Bu..., aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali ia berdoa! Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah. Bu..., aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah." Purnawan mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu! Alhikmah..

Selasa, 22 November 2011

seperti sebuah kayu . . .

diambil dari google biar lebih ngeeh sm tulisannya 
Kini musim telah berganti menjadi musim hujan, atau entah ini musim kemarau namun seolah-olah terlihat seperti musim hujan. Kayu, seikat kayu yang dahulu menjadi sumber penghidupan sebuah laki-laki, kini ditinggalkan begitu saja. Yah, kini laki-laki tersebut telah berganti istri pekerjaan. Dahulu, seikat kayu itu sangat berharga bagi sebuah lelaki menggantungkan hidup pada kayu.

Kini,

yang terjadi adalah, kayu yang telah ia ikat dalam sebuah ikatan kecil,ia tinggalkan. . .

tanpa memperdulikannya lagi,

tanpa merasa . . bahwa ada hal yang salah,



Tanpa sebuah lelaki itu sadari,



seiring bergulirnya waktu di hutan itu,

siang . . malam . . panas . . dingin . . dan angin..

lama kemudian,

sang kayu  . . yang tak bisa berbicara. . diam

yang hanya "mati" . . . hingga  akhirnya  - - - - - -  menjadi lapuk.



hingga sseekor laki-laki itu kehilangan pekerjaan barunya- - - dan suatu saat kemudian ia ingat akan seikat kayu yg ia tinggalkan. Ia datang kembali . . . ke hutan,



mencari kayu yang dulu sempat ia ikat,


namun ternyata, kayu itu telah  rusak-hampir mrnghilang-karena keadaan

wibiya widget